Articles

Tidak ada bukti tentang tuhan, lantas bagaimana dong?

In ketuhanan, Mahatahu, Mahacinta, bukti, keberadaan, keberadaan tuhan, sifat tuhan on 22 April by Prof. Idiot Ditandai: ,

is there a GodMenurut akal telanjangku, tidak ada bukti bahwa Tuhan itu ada. Namun, tidak ada bukti pula bahwa Tuhan itu tidak ada. Jadi, mungkin saja Tuhan itu ada, mungkin pula tidak ada. Oleh karena itu, diriku perlu terbuka terhadap dua kemungkinan ini.

[1] Seandainya tidak ada sesuatu yang bisa kusebut sebagai “tuhan”, bagaimana kujalani hidupku supaya hidupku bermakna? Menurut akal telanjangku, yang paling dapat aku andalkan adalah akal sehat dan hati nurani manusiawi. Kemudian dengan mendalami dan memanfaatkan filsafat, sains, budaya, teknologi, dan produk-produk akal/hati lainnya, hidupku mungkin akan lebih bermakna.

[2] Seandainya ada Tuhan, mestinya Dia mengetahui pikiran polosku bahwa: (1) mungkin saja tidak ada tuhan, (2) yang paling dapat aku andalkan adalah akal sehat dan hati nurani manusiawi, (3) hidupku bisa lebih bermakna melalui filsafat, sains, budaya, teknologi, dan produk-produk akal/hati lainnya.

Bahkan, mungkin saja Tuhan bukan hanya sekadar mengetahui pikiran polosku itu. Menurut akal telanjangku, Tuhan mestinya juga memaklumi pikiran-pikiran polos seperti itu. Bagaimana tidak? Kalau orangtua saja [dengan cinta atau kasih sayangnya] bisa memaklumi pikiran polos anak-anaknya, bukankah mestinya Tuhan [dengan Cinta atau Kasih Sayang-Nya] lebih memaklumi pikiran polos para hamba (atau “anak-anak”)-Nya? Dengan demikian, kalau memang tuhan itu ada, maka yang kuterima keberadaannya adalah Tuhan yang Mahacinta (Maha Pengasih, Maha Penyayang) dan Mahatahu.

Kalau pun sebenarnya tidak ada tuhan, aku merasa nothing to lose (tidak kehilangan apa pun) bila aku berpikiran polos bahwa ada sesuatu yang mahatahu dan mahacinta, sesuatu yang bisa kita sebut sebagai tuhan. Dengan menganut prinsip Ketuhanan Yang Mahatahu dan Mahacinta, tidak ada yang hilang dari diriku. Dengan kata lain, aku tetap bisa menjadi diriku sendiri. Bahkan, aku bisa berkembang. Begitu pula orang-orang lainnya. Mereka pun bisa menjadi diri sendiri dan berkembang pula.

Kalau begitu, oke-oke sajalah. Aku anut saja prinsip Ketuhanan Yang Mahatahu dan Mahacinta. Bagaimana dengan dirimu?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s