Articles

Akhirnya, kutemukan agama yang pasti benar

In agama, agama yang benar, definisi agama, kebenaran agama, kriteria, pendidikan agama, renungan on 26 April by Prof. Idiot Ditandai: ,

religions symbols Untuk menemukan seseorang, kita perlu tahu lebih dahulu ciri-ciri khasnya. Untuk menemukan agama yang benar, kita perlu tahu lebih dahulu kriteria agama yang benar. (Lihat “Manakah agama yang benar?“. Untuk alternatif lain, lihat “Kisah Nyata: Mencari Jalan Hidup Yang Benar dengan Hati Nurani“.)

Setelah berminggu-minggu, berbulan-bulan, dan bertahun-tahun mencari, aku sudah menemukan “kriteria” agama yang benar. Sudah pula kujumpai agama yang memenuhi kriteria tersebut. Dengan kata lain, sudah kutemukan agama yang pasti benar. Berikut ini penjelasanku.

Untuk awal penjelasan, kusampaikan lebih dulu apa yang kumaksud dengan
“agama”. Agama adalah sistem kepercayaan yang dianut oleh seorang individu sebagai tanggapan terhadap kenyataan bahwa individu tersebut sedang hidup dan akan mati. Dengan definisi agama ini, maka mungkin saja jumlah agama manusia itu sama banyaknya dengan jumlah individu manusia seluruhnya. Namun mengingat bahwa ada banyak orang yang mengikuti atau pun ikut-ikutan agama orang lain, maka jumlah agama tidaklah sebanyak jumlah manusia yang pernah hidup.

Apabila kita mengikuti agama seseorang, dengan asumsi bahwa agama orang tersebut sudah benar, apakah agama kita (yang merupakan hasil dari mengikuti agama orang tersebut) pasti benar?
Belum tentu!

Mengapa belum tentu?
Besar kemungkinan, pemahaman kita terhadap agama orang tersebut tidak sama dengan pemahaman orang tersebut.

Mengapa tidak sama?
Karena dalam proses belajar kita untuk memahami agama orang tersebut, mungkin saja kita mengalami kesulitan untuk memahami sepenuhnya agama orang tersebut.

Untuk ilustrasi penjelas, marilah kita tinjau proses pendidikan formalku. Aku telah belajar di sebuah perguruan tinggi agama. Namun dari para dosen yang mengajarkan agama kepadaku, aku tidak selalu mendapat nilai A atau nilai 100. Ini merupakan bukti bahwa aku tak bisa yakin bahwa aku telah memahami agama para dosenku itu. Dengan demikian, kalau pun para dosenku itu sudah menganut agama yang benar, agamaku (yang merupakan hasil dari mengikuti agama mereka) belum tentu benar.

Tentu saja, aku belajar agama tidak hanya dari para dosen agama itu. Aku pun belajar dari para “pengajar” lainnya, baik secara langsung dengan tatapmuka maupun melalui media cetak dan elektronik. Namun sebagaimana terhadap pelajaran dari para dosenku, aku pun tidak bisa yakin bahwa aku sudah memahami agama yang mereka ajarkan kepadaku.

(Renungan Tambahan: Hampir semua penyiar agama mengikuti agama pendahulu mereka, sedangkan pendahulu mereka mengikuti agama orang-orang yang lebih dahulu daripada mereka, demikian seterusnya sampai ke “pencipta” agama mereka. Nah, apakah agama orang-orang yang mengikuti itu sama persis dengan agama orang-orang yang diikuti? Apakah orang-orang yang mengikuti itu benar-benar sudah memahami agama orang-orang yang diikuti? Dengan kata lain, apakah mereka telah mendapat nilai A atau nilai 100 dari para pendahulu mereka?)

Oleh karena itu, kalau hanya sekadar mengikuti agama orang lain yang diasumsikan sudah benar, maka agamaku sendiri (yang merupakan hasil dari mengikuti agama mereka) belum tentu benar. Aku baru bisa meyakini kebenaran agamaku jika agamaku telah memenuhi kriteria agama yang benar.

Sementara itu, apabila aku hanya ikut-ikutan agama seseorang, maka benar-salahnya agamaku bergantung pada benar-salahnya agama orang tersebut. Kalau agama tersebut memenuhi kriteria agama yang benar, maka benarlah agamaku. (Begitu pula seandainya aku “menciptakan” agama baru. Bila memenuhi kriteria, maka benarlah agama “ciptaan”-ku.)

Saat ini, akal telanjangku yakin bahwa di dunia ini, aku takkan mampu menemukan kriteria agama yang kebenarannya mutlak. Dengan kata lain, kriteria yang pasti benar dalam pikiran polosku adalah kriteria yang kebenarannya “relatif”. Maksudnya, berhubung kita membutuhkan kebenaran dalam menganut agama, maka kita perlu senantiasa meninjau kembali segala kebenaran yang “relatif”. Jadi, agamaku yang pasti benar adalah yang mendorongku untuk senantiasa bersungguh-sungguh mencari kebenaran. Begitulah kriteria agama yang benar menurut akal telanjangku. (Memang, nilai kebenaran yang kutemukan dari hasil pencarian ini tidak mutlak. Namun, “senantiasa bersungguh-sungguh mencari kebenaran” merupakan sikap dan perbuatan yang pasti benar atau mutlak.)

Dengan kriteria tersebut, aku sudah menemukan agama yang pasti benar. Dengan kata lain, aku sudah menjumpai agama yang mendorongku untuk senantiasa bersungguh-sungguh mencari kebenaran.

Manakah agama yang pasti benar itu? Dengan kata lain, manakah agama yang mendorongku untuk senantiasa bersungguh-sungguh mencari kebenaran? Apakah Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Kong Hu Chu, Yahudi, Humanisme, Agnotisisme, Universalisme Tauhid, atau apa?
Jawaban atas pertanyaan ini kusampaikan dalam tulisan mendatang, “Inilah Agama Yang Pasti Benar

Iklan

19 Tanggapan to “Akhirnya, kutemukan agama yang pasti benar”

  1. […] Akhirnya, kutemukan agama yang pasti benar […]

  2. Setiap individu mempunyai Agama, setiap Agama mempunyai Al-kitab yaitu sebagai buku Manual, atau petunjuk untuk menjalani
    hidup agar selamat di dunia sampai kembali ke achirat,..Kenapa Alloh katakan dlm Al-quran..sesungguhnya manusia dalam kerugian,. karena manusia diciptakan dibekali dgn Akal dan Nafsu.
    Nafsu inilah sebagai koneksi syaithon, jika manusia sudah dikuasai oleh nafsu maka sesungguhnya dia adalah bukan manusia tetapi menjadi Budak Syaithon,.jika manusia sudah dikuasai oleh nafsu / syaithon maka hancurlah dirinya dan dunianya, Jihad yg paling besar adalah berperang melawan hawa nafsu yg ada dalam diri setiap manusia .
    Maka jalanilah hidup ini sesuai dgn aturan Alloh SWT. Sang Pencipta semesta alam yang dituangkan dalam Al-Quran.

    • bingung gk ya, kl ajaran yg mngatakn dr pada sex bebas kawin 4x halal, dsurga ada sex bebas dng 72 bidadari yg selalu perawan?

  3. Pengertian Agama ,
    barangkali dapat dijabarkan sebagai berikut :
    agama adalah suatu panduan serangkaian perbuatan setia dan bakti yang harus dilakukan secara jujur , sukarela dan berkesinambungan ,
    berdasarkan pemahaman Ketuhanan , Kemanusiaan dan Kemandirian yang rasional ,
    untuk melaksanakan hak dan kewajiban manusia sebagai ciptaan Tuhan , keturunan Leluhurnya ,
    dan bagian dari komunitas masyarakat adat negeri ,
    yang diterapkan tanpa mengharapkan pamrih , pahala atau iming imbalan lainnya ,
    yang akan teranugrah pada hidup abadi sesudah mati ,
    namun didorong oleh niat yang tulus dan ikhlas yang terbit dari lubuk hati nuraninya sendiri ,
    dan dengan sendirinya dilakukan , bukan karena imbauan atau bujukan , perasaan malu atau takut ,
    atau wujud suatu penjilatan , penghambaan dan ketakutan terhadap kekuasaan Tuhan semata ,
    melainkan keinginan luhur untuk menyatakan perasaan cinta-kasih , hormat dan bangga ,
    kepada DIA TUHAN ,
    Pencipta , Asal dan Awal-mula keberadaan dan kehidupan Alam-semesta ,
    sebagai Leluhur yang paling Tua , Leluhur Utama umat manusia.

    • Apabila agama didefinisikan sebagai “panduan”, maka pikiran polosku mungkin tidak bisa menemukan agama yang pasti benar.

      • Menurut KBBI online ,
        pan•du•an n 1 penunjuk jalan; pengiring; 2 (buku) petunjuk;
        pi•kir•an n 1 hasil berpikir (memikirkan): ia pandai menangkap ~ dan perasaan orang lain; 2 akal; ingatan; 3 akal (dl arti daya upaya): mendapat ~; 4 angan-angan; gagasan: ~ baru; 5 niat; maksud: tidak ada ~ akan berhenti bersekolah;
        ~ beramuk menjadi bingung; ~ bercabang bimbang; ragu; ~ buntu tidak dapat berpikir lebih lanjut; tidak dapat menemukan jalan pemecahan masalah; ~ gila pendapat yg tidak mungkin dilaksanakan; ~ pendek picik; ~ tumpul bodoh;
        po•los a 1 berwarna semacam saja (tidak dihiasi atau diberi berbunga-bunga dsb): piring –; bajunya –; 2 ki sangat sederhana (sikap, tingkah laku, dsb); 3 ki apa adanya; dng sebenarnya: jawabannya — saja; 4 ki tidak bermaksud jahat; jujur (tt hati, pikiran);

        Jadi agama sebagai panduan , sebagai penunjuk jalan ( cara ) , sebagai penuntun sah-sah saja , ya….
        Pikiran polos , dapat diartikan gagasan atau pemikiran yang tidak macam-macam …., yang sederhana , yang apa adanya , yang jujur ….., jadi yah..nampaknya berpulang ke situ aja ..ya..

        Agama yang punya penganut , sudah pasti mengandung kebenaran. Setidaknya menurut penganutnya itu. Dan tentu tidak benar , atau tidak benar , bagi yang bukan penganutnya.
        Semoga sukses.

  4. […] Akhirnya, kutemukan agama yang pasti benar Setelah berminggu-minggu, berbulan-bulan, dan bertahun-tahun mencari, aku sudah menemukan “kriteria” agama yang benar. Sudah pula kujumpai agama yang memenuhi kriteria tersebut. Dengan kata lain, sudah kutemukan agama yang pasti benar. Berikut ini penjelasanku. … Baca Selengkapnya This entry was posted in Purest Love dalam Bahasa Indonesia, agama ala M Shodiq Mustika and tagged agama yang benar. Bookmark the permalink. ← My Name Is Khan … or Muhammad? […]

  5. kuntil mamak

  6. aku percaya di dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus

  7. “agamaku yang pasti benar adalah yang mendorongku untuk senantiasa bersungguh-sungguh mencari KEBENARAN”
    kalau begitu pilihan Anda adalah Baha’i

  8. Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia ? ( QS. Al Hajj : 18 ), kesemuanya tunduk sujud kepada Allah hingga tercipta suatu keteraturan di bumi, alam, dan kehidupan. Mengapa kita tidak mencari tahu aturan-aturan tersebut agar kita selamat dari perbuatan-perbuatan merusak karena Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

  9. Kawan uraian-uraian anda diatas tidak menunjukkan sebuah kriteria kebenaran. Kalau anda sekalian mencari kebenaran agama sampai kapanpun pikiran polos/telanjang anda tidak mampu menerkanya. Mengapa anda mesti mencari kebenaran agama? apakah anda ingin samakan agama dengan “Ilmu/science” semakin anda mencari kebenaran diantara agama yang ada, anda akan semakin kabur menilai agama. Setiap kita yang mengakui adanya “Tuhan/Allah” akan lebih baik bila kita tidak egois, mengetahui sepintas nilai sebuah agama lalu seenaknya kita memberi justifikasi sesuai dengan kekurang tahuan kita terhadap nilai atau kebenaran agama itu.
    Apabila anda ingin membuktikan kebenaran agama maka secara metologis hanya ada dua pendekatan, perdebatan kita sekarang ini mungkin bisa dikategorikan sebagai pendekatan kualitatif, disini argumentasi sangat penting dan ayat-ayat suci dapat digunakan sebagai instrumen untuk pembuktian. Kalaupun demikian semua kita akan tetap bersikap tegas untuk mempertahankan agama kita karena itu tidak akan mungkin kita sampai pada sebuah kesepakatan bersama soal kebenaran agama kita atau orang lain. Sikap mempertahankan agama masing2 dapat menjebak kita untuk menjadi egois, lalu kalau sikap nasionalisme kita lemah maka kita akan terjerat kepada tindakan anarkisme yang berlabel sarah.
    Kita tak perlu terlalu banyak meluangkan waktu untuk berdebat soal kebenaran tapi marilah kita memahami perbedaan kita sebagai bagian dari kemajemukan namun kita tetap sesama umat manusia yang hidup untuk jangka waktu tertentu lalu mati. Kematian itu adalah sebuah kepastian karena itu jangan kita mencari kebenaran untuk saling membedakan karena setelah pembagian masyarakat sesuai dengan kelas ekonomi kini kita mencoba untuk menggunakan agama untuk membangun kelompok kebenaran akan ajaran agama. Sementara kebenaran tidak akan anda dapati sebelum anda meninggalkan dunia fana ini. Kalau saja para orang yang telah mati memberikan data statistik untuk membuktikan secara metodologis bahwa umat agama A, B, C, D atau E lebih banyak masuk surga dan yang lainnya masuk neraka maka angka statistik ini dapat dijadikan referensi kebenaran agama bersangkutan maka marilah kita tutup semua agama lalu kita berbondong-bondong masuk agama bersangkutan.
    Akhirnya menurut aku, akan lebih baik kita menggunakan nilai agama untuk bersikap arif dan bijaksana. Marilah kita menggunakan agama untuk bersikap jujur terhadap rakyat kita, menggunakan agama untuk menghapus kelas orang kaya, ekonomi menengah dan masyarakat miskin. Dengan bersikap jujur kita tidak akan makan buta uang rakyat, tidak akan ada segelintir orang yang duduk di kelas orang kaya dan ekonomi menengah sementara mayoritas kita dibelenggu kemiskinan. Setiap hari raya kita berbondong-bondong untuk rebutan hadiah kurban atau hadiah hari raya sementara sikaya berlabelkan agama terus menginjak-injak hak kita sebagai rakyat kecil. Akhirnya simiskin gemar mencari kebenaran agama sikaya gemar mencari kekayaan….lalu…

  10. Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, yang berarti seruan kepada kita umat islam untuk menjalankan perintahNya dan meninggalkan segala laranganNya, karena sangat pedih balasannya bagi orang-orang yang melanggarnya.
    Barang siapa yang melakuka perbuatan baik akan dibalas dengan kebaikan dan yang melakukan keburukan akan dibalas dengan keburukan ( terserah kepada anda mau pilih yang mana,..karena semua akan kembali kepada anda ).

  11. Mana kriterianya dari penjelasan anda saya tidak menemukan sedikitpun kriteria yang anda maksudkan untuk mendefi nisikan agama yang paling bener.. hanya muter-muter nggak jelas

  12. trus….kau jng jd bodoh!!!

  13. Ada hadist yg bisa menggugah kita utk lebih memahami dunia saat ini :
    Islam datang pada masa jahiliyah dalam keadaan asing, dan telah datang masanya di mana islam saat ini dirasakan asing oleh pemeluknya. Sungguh benar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya, “Sesungguhnya Islam dimulai dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana awalnya, maka thuuba (beruntunglah) orang-orang yang asing” (HR Muslim).

    Dizaman gila spt skrg ini, banyak perilaku muslim yg jauh dari Islam, spt Riba, Zinah dianggap manusiawi, poligami dihujat, dst..cobalah kita lihat masa lalu, lihat apa yg terjadi di sejarah islam itu sendiri…kita hrs menyadari apa yg terjadi di link kita sdh sangat tdk islami.

    Fakta ilmiah ttg kebenaran Islam (lebih jelas bisa searching di inet) :
    1. Bulan terbelah
    “Telah dekat datangnya Hari Kiamat dan Bulan telah terbelah * Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: “(Ini adalah) sihir yang terus menerus” * Dan mereka mendustakan (Nabi) dan mengikuti hawa nafsu mereka, sedang tiap-tiap urusan telah ada ketetapannya” (Al-Qamar (54): 1-3).
    2. Tentang besi
    Dalam Alquran surat Al Hadiid ayat 25 menjelaskan bahwa Allah menurunkan besi yang memiliki kekuatan hebat dan memiliki banyak manfaat bagi manusia.
    3. Penciptaan berpasang2an.
    Surat Yaasin ayat 36 menjelaskan, Allah menciptakan segala sesuatu secara berpasang-pasang. Dalam ayat lain, Allah uga berfirman, “Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah.” (QS Adz-Zaariyat: 49).
    4. Fakta Garis edar tata surya
    Matahari, planet, satelit dan benda langit lainnya bergerak dalam garis edarnya masing-masing. Alquran surat Al Anbiya ayat 33 dan surat Yaasin ayat 38 menjelaskan mengenai fakta ilmiah itu dan terbukti kebenaranya.

    Masih banyak lagi yg ga bisa kami sebutkan semuanya..
    Insya Allah.. tetaplah d jalan yg lurus..mmg tantangan berat d zaman yg gial saat ini..
    insya Allah..tetaplah sholat jamaah, sholat malam, sholat istiharoh utk memantapkan hati dlm menjalani hidup..etc
    insya allah akn dtemukan dsana, sy SMA dulu ateis…

  14. AgamaKristen adlh agama yg Benar.

  15. Intinya semua agama itu baik…
    Ayo Islam, Kristen , Budha , N Hindu
    Kita bersatu ciptakan dunia yg Terbaik..
    Boboiboy

  16. Ah itu sih balik lagi ke individu nya aja.. Semua agama baik.. Kenapa tidak dapat nilai A atau 100, padahal agamanya penulis sama dengan dosen.. Bukan perbedaan antara benar atau salahnya agama tersebut, tapi tingkat pengetahuan & keyakinan serta keimanan yang berbeda..
    Contohnya, kenapa di pesantren/sekolah, masing2 murid punya nilai berbeda dari murid yg lain..? Padahal gurunya ahli bidang pelajaran tsb, murid2 yg lain jg belajar pelajaran yg sama, tapi koq nilainya beda2 yah..? Kenapa yah..? Analogi nya seperti itu.. Jawabannya simple kan, saya yakin yg baca pasti ngerti..
    Penulis koq kayaknya jd terkesan ‘melarikan diri’ karena awalnya nilai yg gk 100 itu lho, akhirnya jd kepikiran gitu deh.. Padahal belajarnya di universitas agama, dosennya juga beragama sama..

    Jawabannya gampang mas, agama itu bukan science yg bisa dijelasin pake rumus.. Tapi KEYAKINAN & IMAN..
    Kalo nyari agama yang paling benar, itu gak akan pernah ketemu, soalnya setiap manusia pengikut agama tertentu pasti punya alasan sendiri untuk menganggap agamanya paling benar.. Termasuk mas dengan keyakinannya itu.. Jadi menurut saya, apa yang mas tulis ini terlalu polos, bahkan untuk anak kecil seperti saya.. Menurut saya hal seperti ini tidak usah itu tidak usah ditulis dan dipublikasikan di internet, karena akan menimbulkan masalah yang banyak & besar.. Kalo pendapat mas tentang keyakinan menurut persepsi mas ditulis di internet begini, kesannya kayak ngajak gabung & caper tau.. Itu kan urusan mas dengan keyakinannya sendiri..

    Kalo mas mencari kebenaran apalagi yang mutlak, sampai mati gak akan ketemu.. Kecuali kalo kita meninggal dunia..

    Laa shay’a waqi’un moutlaq..
    Nothing is true..
    Tidak ada kebenaran dan hal yang mutlak..
    Tidak ada kebenaran kecuali Allah dan yang datang dari-Nya..
    Tidak ada yang disebut kenyataan kecuali Allah dan yang di-nyata-kan-Nya..

    Yakini keyakinan kita terhadap agama yang kita yakini, jalankan ibadahnya sepenuh hati, urusan kebenaran, toh Allah yg ngatur.. Kita cuma bisa tau kalo kita udah meninggal dunia.. Jd gk usah cari pembenaran soalnya gk akan kita temukan.. Semua itu relatif, karena kenyataan & kebenaran umum bagi manusia cuma persepsi yang diterima panca indra & dipercayai otak..

    Semoga kita mendapat hidayah & petunjuk dari Allah SWT..

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s