Archive for the ‘pengambilan kesimpulan’ Category

Articles

:( Kesedihanku karena disalahpahami

In agama yang benar,pengambilan kesimpulan,pengetahuan on 9 Agustus oleh Prof. Idiot Ditandai: ,

😦 Aku saat ini merasa sedih… Maksud hati mau cari tahu dengan tanya2 tentang makna ayat2 Qur’an kepada orang yang kuanggap lebih tahu, apa daya.. aku malah dianggap meng-olok2 & me-rong2 agama kita. Aku jadi merindukan masa2 kuliahku di IAIN Jogja dulu. Saat itu, para mahasiswa bisa bertanya dengan se-polos2nya, dan sang dosen mau mendengar (dan menjawab) dengan penuh kesabaran.

Pertanyaan yang menurutku terpenting saat ini adalah: Mampukah manusia memahami firman Tuhan? Kalau manusia tidak mampu memahami, mengapa Tuhan menurunkan kitab suciNya? Kalau manusia mampu memahami firmanNya, mengapa ada banyak pemahaman? Mana yang Benar? Terhadap pertanyaan semacam itu, aku menjumpai sebuah jawaban yang menarik sebagai berikut: Kenapa Al-Qur'an tidak jelas sistematikanya? … Baca Lebih Lanjut

Iklan

Articles

Kisah seorang idola yang mengejar seorang perempuan

In idola,pengamat,pengambilan kesimpulan,pengetahuan,perempuan on 4 Agustus oleh Prof. Idiot Ditandai: ,

wanita berlariSuatu hari, si Fulan melihat idolanya mengejar seorang perempuan. Tiba-tiba seorang perempuan lainnya melintas di depannya. Lalu ia pun mengejar si perempuan.

Melihat itu, seorang pengamat merasa geram. “Mengejar perempuan? Menjijikkan!”

Lantas sang pengamat menemui si Fulan dan bertanya: “Mengapa kau mengejar perempuan itu? Apa kau tidak tahu bahwa perilaku seperti itu menjijikkan?”

Si Fulan: “Itu tidak menjijikkan. Saya mengejar perempuan itu karena meniru idola saya. Saya telah melihat dia mengejar seorang perempuan. Perilaku idola tidak mungkin menjijikkan.”

Sang pengamat merasa geram. Ia tidak sepaham. Dia merasa heran mengapa seorang idola mengejar seorang perempuan. Baginya, bila perbuatan menjijikkan dilakukan oleh seorang idola, maka sang idola itu sebenarnya tidak pantas menjadi idola.

Sesaat kemudian, sang pengamat bertemu dengan sang idola. Karena merasa geram, tanpa basa-basi ia berkata, “Anda tidak pantas jadi idola.”

Sang idola merasa heran. Ia bertanya, “Mengapa Anda berkata begitu?”

Read More »